25 Mar 2017 13:35

Berencana Ingin Menambah Momongan? Ini Jarak Ideal Kehamilan Antara Anak Pertama dan Kehamilan Selanjutnya

keluarga kokoh

-newagepregnancy.com

SHARE:

    Terlalu muda melahirkan (di bawah usia 18 tahun), terlalu sering melahirkan, terlalu dekat jarak melahirkan, dan terlalu tua melahirkan (di atas usia 35 tahun) dapat membahayakan kehidupan perempuan dan anak mereka. Keluarga Berencana (KB) adalah salah satu cara yang paling efektif untuk meningkatkan ketahanan keluarga, kesehatan dan keselamatan ibu, anak, serta perempuan.

    Beberapa rambu-rambu berikut bisa Anda perhatikan sebelum memutuskan untuk menambah momongan, disadur dari Buku Penuntun Hidup Sehat yang diterbitkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia:

1. Hamil sebelum usia 18 tahun atau di atas 35 tahun akan meningkatkan risiko kesehatan bagi ibu dan bayinya

    Menunda kehamilan pertama sampai ibu berusia minimal 18 tahun membantu memastikan kehamilan dan persalinan yang lebih aman. Hal ini mencegah risiko bayi lahir prematur maupun bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR). Sedangkan bagi ibu, proses kehamilan dan persalinan pun lebih lancar baik dari segi fisik maupun mental. Hal ini menjadi penting terutama di daerah-daerah di mana pernikahan usia dini merupakan adat dan remaja menghadapi tekanan untuk segera hamil.

2. Untuk menjaga kesehatan ibu dan anak, seorang ibu sebaiknya menunda kehamilan berikutnya sampai anaknya yang terakhir berusia minimal dua tahun

    Risiko kematian bagi bayi baru lahir (0 - 28 hari) dan bayi di bawah satu tahun meningkat kalau jarak kelahiran terlalu dekat (kurang daridua tahun). Selain itu risiko lahir prematur dan BBLR juga semakin tinggi. Bayi yang lahir dengan BBLR sulit untuk tumbuh dengan baik, lebih mudah sakit, serta memiliki kemungkinan meninggal empat kali lebih besar pada usia satu tahun pertama dibandingkan dengan bayi yang lahir dengan berat badan normal. Bagi anaknya yang berusia lebih tua, pemberian ASI kemungkinan terhenti, sehingga ibunya kekurangan waktu untuk menyiapkan makanan dan memberikan perhatian serta pelayanan yang diperlukan oleh semua anaknya.

3. Risiko kesehatan selama kehamilan dan persalinan akan semakin meningkat, jika seorang ibu terlalu sering hamil

   Tubuh seorang ibu akan mudah sekali menjadi lemah karena hamil yang berulang kali, melahirkan, dan merawat anak kecil. Setelah mengalami kehamilan berulang kali, seorang ibu akan menghadapi risiko masalah kesehatan yang semakin meningkat, seperti anemia dan pendarahan.

4. Pelayanan KB memberikan pasangan suami istri pengetahuan dan kemampuan untuk merencanakan anak

    Petugas KB akan memberikan penyuluhan pada pasutri tentang kapan akan mulai punya anak, berapa jumlah anak yang akan dimiliki, berapa tahun jarak usia antara anak, dan kapan akan berhenti melahirkan. Terdapat banyak pilihan alat kontrasepsi yang aman, efektif dan dapat diterima untuk mencegah kehamilan.

5. Setiap pria dan wanita usia subur berhak mendapatkan informasi dan pelayanan KB serta bertanggung jawab terhadap KB

    Mereka perlu mengetahui tentang manfaat KB bagi kesehatan dan berbagai pilihan yang tersedia. Pasangan Suami Istri termasuk remaja putera dan puteri ikut bertanggungjawab untuk mencegah kehamilan yang tidak direncanakan termasuk mendapatkan akses informasi tentang berbagai metode dan manfaat KB dari tenaga kesehatan terlatih. Informasi tentang KB juga dapat diperoleh dari dokter, perawat, bidan, klinik KIA atau klinik KB, guru, dan organisasi pemuda/perempuan.

 

Sosial Media