01 Feb 2017 12:00

#MahakaryaAyahIbu: Kursi yang Sama Tujuan Akhir Ayah dan Ibu

keluarga kokoh

Pixabay

SHARE:

Oleh: Reinhard Budiman

Semakin lama sebuah hubungan, perasaan cinta akan semakin pudar. Begitu kata mereka.

Sejak dulu, aku tidak percaya dengan pendapat itu. Seperti yang digambarkan di film-film, bagiku cinta adalah perasaan yang paling kuat di dunia. Cinta sejati akan bertahan, bahkan sampai akhir hayat. Terlebih melihat Ayah dan Ibu, yang selalu bergandengan tangan... Yang selalu dengan tulus bekerja keras demi membangun sebuah rumah yang nyaman bagiku.

Teringat ketika ku masih kecil, Ayah dan Ibu selalu mengajakku pergi berlibur. Kondisi keuangan yang kurang baik tidak menjadi alasan bagi mereka untuk tidak bersama-sama mengusahakannya. Kuintip ketika mereka sedang berdiskusi di kursi ruang keluarga kami. Memutar otak. Lalu, aku akan melompat ke kursi dan mereka mulai menceritakan tentang destinasi kami selanjutnya. Membangun rasa gembira yang menggebu-nggebu dalam diriku. Di sana, di kursi itu, aku tahu, keringat yang diteteskan tidak ada bandingannya dengan keinginan mereka untuk aku keluar, melihat dunia ini dengan lebih luas.

Ayah dan Ibu bukanlah orang yang berpendidikan tinggi. Namun mereka ingin anaknya untuk mengejar pendidikan, jauh di atas mereka. Mereka ingin anaknya mendapatkan taraf hidup yang lebih baik sejak kecil, yang mungkin tidak sempat mereka rasakan. Ayah dan Ibu selalu menjadi rasa aman ketika aku tidak nyaman. Rasa tenang ketika keadaan mulai tegang. Rasa cinta ketika mereka saling bercerita. Aku bertanya pada diriku. Apa yang bisa menaklukkan rasa cinta Ayah dan Ibu? Tidak mungkin rasanya ada kekuatan sebesar itu.

Namun ternyata, seiring bertambahnya usiaku banyak hal yang berubah. Memang taraf hidup keluarga kami semakin meningkat. Namun, Ayah dan Ibu mulai sering bertengkar. Terkadang karena perbedaan pendapat, atau karena membahas aku yang telah bisa mengambil keputusan sendiri. Beberapa saat mereka saling mendiamkan. Beberapa saat lainnya aku mendengar perdebatan dari luar kamarku. Aku pun terkadang harus berada di tengah pertengkaran tersebut. Beberapa kali ketika pertengkaran itu begitu hebat, aku merasa lebih baik menjauh saja. Karena aku pun harus mulai fokus membangun hidupku sendiri. Bahkan, di beberapa titik aku sempat menyerah tentang mereka.

Aku kecewa dengan mereka. Mereka yang dulunya berusaha membuatku nyaman dengan istilah keluarga.

Kembali aku bertanya pada diriku. Di manakah Ayah dan Ibuku yang dulu? Apakah benar cinta Ayah dan Ibu telah pudar dimakan usia? Apakah realita keluarga memang tidak seindah gambaran ideal yang biasa ditampilkan?

Namun kini, aku telah menemukan jawabannya.

Mungkin semua tidak lagi tampak seindah dulu. Tapi mengejutkannya, mereka tetap bertahan. Utuh, sebagai satu keluarga. Seberapa pun Ayah dan Ibu menyangkalinya, terlihat sebuah kasih sayang yang tidak mereka sadari.

Di balik pertengkaran-pertengkaran kecil yang dilakukan....

Di balik rasa kesal yang menghampiri ketika berbeda pendapat....

Setiap matahari terbenam, sunggingan senyum hangat itu tak pernah terlambat untuk kembali menyapa. Sebuah senyuman yang bermakna maaf, dan membawa harapan untuk bersama-sama menjadi lebih baik. Senyuman yang meruntuhkan segala pertahanan kami. Senyuman yang mengembalikan kami di kursi yang sama, di mana kami mentertawakan apa yang kami kesalkan dan kembali berbagi kehangatan.

Kehangatan keluarga yang indah.

Ibu, Ayah. Dari kalian aku belajar.

"Cinta bukan tentang perasaan semata."

Tapi juga soal komitmen untuk keluarga yang kokoh, kemauan untuk tetap bertahan, saling mendukung, dan saling percaya meski dilanda hujan dan badai. Dan meski kobaran cinta terlihat pudar dimakan usia, semua elemen itu membawa cinta menjadi bentuk mahakarya yang jauh lebih besar lagi. Sebuah cinta yang mengatasi segala gonjang-ganjing dan realita kehidupan. Sebuah cinta yang kokoh tak tertandingi.

Terima kasih, Ayah dan Ibu.

Terima kasih untuk selalu kembali ke kursi yang sama, seberapa jauh pun badai membawa kalian.

___________________________________________________________

Artikel ini merupakan karya tulis peserta kompetisi storyline "Mahakarya untuk Ayah dan Ibu" yang diselenggarakan oleh IDNtimes dan Semen Gresik.

Sosial Media