11 Jan 2017 20:00

#MahakaryaAyahIbu: Persembahan Cinta untuk Ayah, dari Anak Perempuanmu

keluarga kokoh

pixabay.com

SHARE:

Oleh: rafika saputry

Kompetisi DIPERPANJANG s/d 31 Januari 2017 dan tambahan 2 topik menarik yang bisa Anda pilih!

Menangkan total hadiah utama 1 paket wisata ke Singapura, perhiasan dari Frank & Co., jam tangan dari Alexandre Christie dan berbagai hadiah menarik lainnya serta storyline terbaik akan dijadikan ide cerita untuk video komersial Semen Gresik! Info lengkapnya lihat di sini.

_________________________________________________________________________

Hari ini Melalui wadah ini, aku sedang ingin menuliskan sebuah harapan untuk kupersembahkan pada mereka. Tekad yang tak pernah mau menyerah, kudapati dari ayahku. Lelaki pertama yang kucintai. Lelaki yang selalu memperlakukanku seperti seorang putri. Banyak hal yang kukagumi dari sosoknya. Dari kecil, aku memang sudah dekat dengannya. Itulah yang membentuk pribadiku menjadi tangguh. Pernah suatu hari, Aku berangan memetik bintang untuknya. Sampai hari ini, apakah mungkin suatu hari bintang dapat kuberikan padamu, pa?

Di negeri asing ini sendiri meniti tangga mimpi, aku menamainya Kota mimpi. Untuk sampai ke kota ini, butuh usaha untuk membuat ayahku memberi izin. Waktu itu dihari keberangkatanku ke kota ini, engkau hanya diam, pa. Aku tahu, engkau belum rela. Aku tak memaksa. Tapi, kau lebih mengenal anak perempuanmu. Anak perempuan yang selalu kau banggakan pada semua orang. Anak perempuanmu yang tak mau menyerah. Hingga ketika aku berangkat ke negeri yang asing, kaupun melepasku dengan kepercayaan. Waktu itu, kudapati wajahmu yang sedang berusaha membendung airmatamu. Pa, kau tahu anak perempuanmu akan selalu pulang kapanpun.

Tiap tahun ketika mengunjunginya, selalu kudapati warna rambutnya yang mulai termakan usia. Dan membuatku merasa sedih sebab bintang belum mampu kupetik untuknya. Niatku ke kota ini adalah mempersembahkan bintang dalam sebuah mahakarya untuk mereka. Mahakarya sebuah rumah yang kokoh berdiri. Rumah yang terang seperti bintang. Rumah dimana Aku selalu merasa tak pernah dewasa. Dan mereka tak pernah tua. Rumah yang tidak kupedulikan besar atau kecilnya. Rumah yang selalu membuatku selalu betah.

Mahakarya yang membuat mereka bahagia menikmati senja di berandanya. Menikmati malam dengan taburan bintang. Dan Aku sangat tahu sekali bahwa mimpi ini terlalu melangit. Bahkan aku sangat memahami bahwa status sebagai karyawan biasa belum mampu untuk mewujudkannya. Tapi tidak ada yang tidak mungkin ketika Allah berkata "Terjadi maka terjadilah. Upaya akan membawamu sejauh usahamu menggapainya.

Dalam redup doa, harapan akan menjelma nyata. Entah sampai atau hanya masih perputaran nasib yang belum jelas adanya. Tapi toh, dia tetap akan terwujudkan hanya saja butuh waktu, usaha dan doa. Selama doa tak pernah redup, selama itulah harapan tetap hidup.

Kehidupan selalu meletakkan manusia pada level yang berbeda-beda. Level sudah merasa memiliki segalanya, level mencapai rasa kepuasaan tak terkira,  level yang menganggap dirinya sudah mampu menguasai semuanya. Posisiku masih dalam level yang sedang berusaha memiliki yang diimpikannya.
Di posisi manapun kita berada, kita bukan satu-satunya yang gagal. Hanya saja kita terlalu melihat segala hal dari sisi pesimis. Mempercayakan segalanya pada Allah, aku yakin akan membantuku mencapai sebuah usaha.

Suatu hari pa, kelak mahakarya itu akan kupersembahkan padamu. Suatu hari pa, mahakarya itu akan menjadi kebanggaanmu. Suatu hari pa, walau semesta tidak menghendaki kau merasakannya. Kelak disyurga, mahakarya itu akan kupersembahkan jua. Tekadmu yang tak pernah menyerah membuatku tak pernah mengeluh. Belum waktunya untuk kalah, nak. Katamu. Hidup memang tak pernah bisa ditebak, hanya hati yang kuat yang mampu bertahan. Hatimu harus kuat, nak. Kata-katamu selalu menjadi penyembuh kala keadaan hampir membuatku jatuh.

Waktu tidak pernah salah. Mungkin usahaku yang belum terlalu penuh. Yah, aku tak pernah menyalahkan waktu. Sebab Nabi muhammad pernah bersabda "Janganlah kalian memaki waktu. Karena Allah adalah waktu.  

Dan wahai diri, kau banyak sekali memiliki waktu tak perlu terburu-buru. Lagipula, aku percaya Allah akan membantuku mewujudkan mahakarya itu. Dia tepat waktu. Pada waktunya, semua itu akan datang sendiri. Dan satu-satunya hal yang bisa menggagalkan semua harapan dan impian yang tertulis di atas adalah keraguan. Katakan pada diri kamu mampu mencapai titik itu. Selama pengharapan hanya pada Allah semata, tidak ada kata mustahil ketika dia menghendakinya.

Suatu hari mahakarya itu akan terwujudkan. Pa, tetaplah kuat tetaplah sehat. Walau kata-kata ini tidak membantu sama sekali semoga kata-kata ini menjadi doa penguat untukmu. Sampai mahakarya itu berdiri kokoh dihadapanmu. Tetaplah Sehat.

___________________________________________________________

Artikel ini merupakan karya tulis peserta kompetisi storyline "Mahakarya untuk Ayah dan Ibu" yang diselenggarakan oleh IDNtimes dan Semen Gresik.

Sosial Media