11 Jan 2017 19:00

#MahakaryaAyahIbu: Sebaris Kisah di Balik Toga dan Piala

keluarga kokoh

Dokumen Pribadi. Mahakarya untuk Ayah dan Ibu

SHARE:

Oleh: Malisa Ladini

Kompetisi DIPERPANJANG s/d 31 Januari 2017 dan tambahan 2 topik menarik yang bisa Anda pilih!

Menangkan total hadiah utama 1 paket wisata ke Singapura, perhiasan dari Frank & Co., jam tangan dari Alexandre Christie dan berbagai hadiah menarik lainnya serta storyline terbaik akan dijadikan ide cerita untuk video komersial Semen Gresik! Info lengkapnya lihat di sini.

_________________________________________________________________________

Masa kecilku cukup kecukupan, tapi beranjak masuk kelas 5 SD, ayahku diberhentikan dari sebuah Bank Swasta, dan keluargaku mengalami pergeseran. Mobil, rumah, sepeda motor, sepeda, kulkas, televisi, mesin cuci, bahkan besi, dan rongsokan dalam rumah terjual ludes. Ibuku yang awalnya jadi ibu rumah tangga kini menjalani hidup sebagai buruh pabrik demi untuk memberi beras. Sedang ayahku menjadi tukang tambal ban dan tukang parkir. Segala penghinaan dari saudara dan tetangga terus mereka terima. Semua enggan menghiraukan kesakitan kedua orangtuaku. Empat anak harus mereka besarkan dengan suatu kisah pilu. Segala macam mereka lakukan untuk kami makan dan bersekolah. Hidup yang sedemikian rupa mengajarkan aku bagaimana arti berjuang.

Sejak SMP aku sering diajak ibu untuk berjualan soto dan nasi pecel ketika hari minggu. Sedang ketika liburan sekolah aku ikut ibuku ke pabrik menjadi buruh untuk membeli peralatan sekolah. Hingga lulus SMA telah tiba kualami. Aku tak lantas melanjutkan perguruan tinggi. Aku pun menjadi buruh pabrik untuk membantu kedua orangtuaku dan memenuhi kebutuhan adik-adikku. Jarak rumah dengan pabrik tempat aku bekerja sejauh 40 km, jika pulang pergi maka 80 km. Aku bekerja mulai pukul 05.00 pagi sampai pukul 13.00, jika lembur maka pulang sampai sore hari. Hingga suatu waktu, berkat doa dan dukungan mereka, Tuhan memberiku sebuah jalan beasiswa. Akhirnya aku dapat duduk di perguruan tinggi dengan bantuan negara dan mendapat uang saku per bulan.

Ayah dan ibuku masih tetap menjalani profesi mereka. Dari keringat yang bercucuran di dalam pabrik, bergaul dengan mesin, dan tekanan ibuku dapat membeli beras. Sedang tangan ayahku harus mengalami patah tulang saat ia harus menjaga tempat parkiranya. Sedang tangannya juga harus lecet karena menjadi tukang tambal ban. Sejak aku masuk kuliah, aku melakukan yang terbaik dalam hal akademik. Aku banyak mendapat bantuan dari sahabatku. Aku bahkan mendapat pinjaman laptop. Dari situ kata demi kata, aku mulai merangka kata. Aku mulai mengikutkan tulisan demi tulisanku ke dalam lomba. Bahkan hal akademik pun aku lakukan.

Karyaku mulai menang di tingkat kampus, regional, nasional, maupun Internasional. Bahkan tulisan demi tulisanku mulai diterbitkan di berbagai buku indie, mayor, maupun media massa. Koran demi koran mulai meliput prestasiku. Honor demi honor dari keringatku sendiri pun dapat membantu kedua orangtuaku. Aku dapat membantu membeli makan dan sekolah adik-adikku. Dariku, banyak dari tetanggaku yang ikut mendaftar kuliah melalui jalur beasiswa. Padahal sebelumnya aku lah satu-satunya yang mengenyam pendidikan tinggi di daerahku, sebab kami memang pindah rumah ke tempat yang pedalaman dan jauh dari kota.

Adik-adik tingkat di kampusku dan kelompok literasi di daerahku pun memberi kesempatan padaku untuk menjadi pembicara dalam pelatihan menulis. Adikku pun kini mengikuti jejakku menjadi penulis. Karyanya mulai didapuk menjadi juara terbit di media massa. Hingga karya demi karyaku menjadi mahakarya yang terindah bagi kedua orangtuaku ketika wisuda. Aku menjadi wisudawan terbaik di kampusku. IPK ku 3,82 memberikan mereka senyuman di saat aku memakai toga.

Aku juga ditetapkan menjadi wisudawan berbakat karena aku mengantongi 130-an sertifikat menulis, 1 Juara Tingkat Internasional, 24 sertifikat juara nasional,dan 3 sertifikat juara regional. Bahkan karena prestasi dan tulisanku aku berhak mendapatkan beasiswa S2 dan diberi pilihan untuk beasiswa dalam maupun luar negeri. Dengan jerih payahku sendiri aku dapat membantu mereka. Meski aku tahu apa yang aku lakukan tak dapat menggantikan setiap cucur keringat yang mereka alami. Baru lulus beberapa bulan ini, aku berhasil melunasi biaya sekolah adik-adikku. Dan itu cukup melegakan ayah dan ibuku. Untuk ayah ibu, ini lah mahakaryaku dari hasil jerih payahku sendiri.

___________________________________________________________

Artikel ini merupakan karya tulis peserta kompetisi storyline "Mahakarya untuk Ayah dan Ibu" yang diselenggarakan oleh IDNtimes dan Semen Gresik.

Sosial Media