11 Jan 2017 17:00

#MahaKaryaAyahIbu: Sepotong Kue Manis Surga dari Ayah dan Ibu

keluarga kokoh

kaboompics.com

SHARE:

Oleh: Stevani Chrisentia

Kompetisi DIPERPANJANG s/d 31 Januari 2017 dan tambahan 2 topik menarik yang bisa Anda pilih!

Menangkan total hadiah utama 1 paket wisata ke Singapura, perhiasan dari Frank & Co., jam tangan dari Alexandre Christie dan berbagai hadiah menarik lainnya serta storyline terbaik akan dijadikan ide cerita untuk video komersial Semen Gresik! Info lengkapnya lihat di sini.

_________________________________________________________________________

Sore-sore langit senja tertutup kabut melekat dalam tiap lapisan segumpal awan merah semburat. Kekuatan alam masih sama, mentari terbit dan tenggelam, kicauan burung hilir balik kembali ke sarangnya, air mengalir dari hulu ke hilir beserta anugerah sang maha kuasa untuk ciptaan-Nya yang patut disyukuri. Sepertinya, waktu ini aku harus pulang. Sudah lima belas tahun sejak pertama kali tangis seorang bayi perempuan terdengar di balik bilik. Ya, itu aku yang menjadi salah satu permata bagi ayah dan ibu.

Waktu terus merangkak, remaja kini kulalui, sudah pula rambut hitam legam milik ayah dulu kini memudar, begitu pula dengan ibuku, ke mana perginya wajah ibu yang muda kala itu? Kini hanya tersisa kerutan di sekitar mata yang kulihat di sana-sini. Jangan kamu katakan jika ayah dan ibuku sudah tua atau menua. Aku tak mau melihat mereka menua sebelum aku mempersembahkan mahakaryaku untuk mereka, hanya ingin berbakti aku pada mereka. Kamu yang hendak berkata begitu, harus tahu. Ayahku memang tak bergelimpang harta, tapi kami selalu cukup dan bersyukur dengan itu. Istana kamipun hanya warisan milik kakek. Walau begitu tangan kokoh tak tertandingi bak pahlawan dalam keluargaku, terus membuatku dan kedua adikku serta ibuku merasa aman.

Kukayuh sepeda beroda dua belukis semar, keluar dari gerbang sekolahku untuk bergegas pulang keperaduan, menyambut kedua tangan ibu yang senangtiasa menantiku. Jarak yang mungkin terasa jauh, tapi ini semangatku. Masa ini sudah berpayung hujan. Sepeda ini yang selalu menjadi teman setiaku dakam perjalanan menuju ke titik mahakarya untuk ayah dan ibu.

Aku memang masih seorang pelajar, kado apa yang bisa aku berikan dengan status pekerjaanku ini? Rasa ini ingin membuat mereka bangga dan tak menyesal pernah melahirkanku ke dunia ini. Siapa kata anak remaja tak bisa memberikan sesuatu yang berharga untuk orangtuanya? dengan tekad sebulat bulan purnama malam ini, aku membuat target menciptakan mahakarya itu. Bermodal dari nasehat ayah untukku, ketika makan malam seusai senja dua hari yang lalu kepadaku.

Kamu sekarang sudah besar, anak ayah dan ibu sudah hampir lulus SMP. Nak perlu kamu tanamkan dan goreskan dalam-dalam di hatimu ini. Suatu kesuksesan itu tidak diukur dari seberapa besar keberhasilan yang kamu peroleh, tapi yang terpenting ini bagaimana cara kamu memperolehnya,

Ayahku memang tak jemu-jemu, selalu menasehatiku, tapi entah kenapa aku suka dengan hal itu. Ayah selalu mengajariku untuk bersungguh-sungguh dalam melakukan perkara yang kecil, karena dari situ ada kalanya aku memperoleh perkara besar dalam hidupku. Aku memulai melakukan tugas utamaku sebagai seorang pelajar yaitu belajar. Ini adalah kesempatan emas untuk membanggakan kedua malaikatku, pikirku.

Alam masih sama, selama hampir genap satu tahun ini. Masih sama pula ketika aku berhasil melewati ujian penentu kelulusan tingkat SMP ku. Sejujurnya, banyak orang meremehkanku tapi, aku tidak roboh hanya dengan cemoohan karena pondasiku terlalu kokoh tak tertandingi. Sampai pada hari di mana aku mendapatkan pengumuman kelulusan. Sebelum aku berangkatkan kaki menuju sekolah, ayahku menasehatiku lagi.

Apapun yang kamu peroleh, setidaknya ayah sudah bangga sama kamu nak. Kamu sudah berusaha semampu kamu, dan ingatlah selalu nak, kami selalu berdoa dan menyertai kamu,

Puji Tuhan, syukur tak terkira aku menjadi siswa dengan perolehan nilai ujian tertinggi di sekolahku. Dari segala kekuranganku, aku berhasil membuktikan kepada mereka semua entah yang mendukung atau meremehkanku, bahwa kini aku berhasil. Senyum terus terlukis. Dengan segenap hati, ku persembahkan mahakarya ini untuk orang tuaku tercinta.

Ayah, Ibu. Terimakasih atas dukungan dan doa yang dipanjatkan, menguatkan saat yang lain melemahkanku. Usahaku, jerih payahku ini aku persembahkan prestasi ini untuk ayah dan ibu,

Lalu pecah sudah tangis haru kedua orang tuaku. Oh, beginikah rasanya membuat ayah dan ibu bahagia? Jika iya, aku menyesal tak melakukannya sejak dulu. Senang tak terkira rasanya membuat mereka menangis bahagia dengan jerih payah yang ku persembahkan kepada ayah dan ibu. Surga ini terasa dekat. Senyum mereka, manisnya seperti sepotong kue surga dari ayah dan ibu.

Terimakasih, nak. Ayah dan ibu bangga sama kamu. jangan lupa selalu nak, perjalanan kamu masih panjang. Terus berdoa dan berusaha semampu kamu. Dari sudut ini, ayah dan ibu akan selalu mendampingi kamu.

Seperti mantra, ucapan ibu itu. Kini aku mengerti mengapa surga ada di bawah telapak kaki ibu. Nasib tidak akan berubah jika sesorang hanya diam mematung dan enggan untuk mengubahnya sendiri. Kejujuran dan kerja keras selalu membuahkan mahakarya yang kokoh tak tertandingi di setiap jalan hidup manusia.

___________________________________________________________

Artikel ini merupakan karya tulis peserta kompetisi storyline "Mahakarya untuk Ayah dan Ibu" yang diselenggarakan oleh IDNtimes dan Semen Gresik.

Sosial Media