10 Jan 2017 17:00

#MahaKaryaAyahIbu: Rumah Eyang Tak akan Lekang

keluarga kokoh

Pixabay

SHARE:

Oleh: Dias Khadijah Kinanthi

Kompetisi DIPERPANJANG s/d 31 Januari 2017 dan tambahan 2 topik menarik yang bisa Anda pilih!

Menangkan total hadiah utama 1 paket wisata ke Singapura, perhiasan dari Frank & Co., jam tangan dari Alexandre Christie dan berbagai hadiah menarik lainnya serta storyline terbaik akan dijadikan ide cerita untuk video komersial Semen Gresik! Info lengkapnya lihat di sini.

_________________________________________________________________________

Saat Ibu mengandungku, Eyang Kakung dan Eyang Putri pindah dari kampungnya di Karanganyar, Kebumen ke Jakarta untuk mendapat perawatan medis yang lebih baik bagi Eyang Kakung. Namun, Tuhan berkehendak lain, Ia panggil Eyang Putri lebih dulu untuk meninggalkan dunia. Aku paham, kehadiranku ke dunia pasti tidak akan mampu menggantikan kebahagiaan Eyang Kakung bersama Eyang Putri selama enam dekade.

Eyang Kakung semakin sakit dalam belenggu kehampaannya, sehingga Ibu dan Ayah mengantar Eyang pulang ke rumah di kampung yang telah ia huni selama puluhan tahun. Bagaimanapun canggihnya fasilitas kedokteran di Jakarta, berjuta kenangan yang tersimpan di rumah Eyang lebih mampu untuk mengobati lara batinnya. Eyang justru semakin sehat setelah pindah ke kampungnya. Sayangnya, kami tenggelam dalam ritme kehidupan kota yang mencuri begitu banyak waktu kami, sehingga kami hanya menemui Eyang satu kali dalam setahun, di hari lebaran.

Tak terasa, kunjungan ke rumah Eyang sekadar menjadi kegiatan formalitas saja, padahal Eyang semakin tua dan kami justru semakin menjauh. Sampai suatu hari, Eyang meninggal. Begitu pedih perasaan Ibu. Rasa penyesalan karena tidak dapat melayani dan merawat Eyang sepenuh raga di akhir hidupnya membuatnya sering meratap. Ibu bercerita bagaimana hebatnya sosok Eyang sebagai wedana, sebuah jabatan antara bupati dan camat yang kini tak lagi ada, di Karanganyar.

Eyang menjadi kepercayaan orang-orang dalam berbagai urusan, sehingga rumahnya selalu ramai didatangi orang. Tak sedikit juga orang yang datang untuk konsultasi masalah keluarga, bahkan pencuri pun dibawa ke rumah Eyang untuk diadili, bukan ke kantor polisi, karena mereka percaya, bahwa Eyang pandai mengayomi masyarakat. Mata Ibuku berkaca-kaca saat menceritakan kehangatan di rumah itu. Rumah Eyang terbagi dua; rumah tinggal dan paviliun untuk melayani tamu.

Tiap sore, anak-anak Eyang selalu duduk bersama di sana, bersantai dan mengobrol sambil menikmati teh dan camilan pisang yang diambil dari kebun sendiri. Tetangga pun senang turut berkumpul di sana, juga anak-anak dari keluarga kurang mampu yang Eyang sekolahkan turut bergabung bersama. Ibu sering sekali bercerita tentang ini kepadaku, sampai-sampai aku hafal apa saja tanaman yang ada di halaman belakang rumah Eyang.

Suatu hari, kami mendapat kabar, bahwa rumah Eyang akan terkena pelebaran jalan dan menjadi milik negara. Meski kami mendapat kompensasi atas hal tersebut, kami tetap sedih. Bude dan Pakdeku semuanya menangis atas kenangan yang tak terhingga yang tersimpan di rumah itu. Aku sungguh tak menyangka, ibuku justru terlihat tenang dan ikhlas menghadapi hal ini, padahal Ibu yang selalu bersikap melankolis dalam mengenang tiap detik kejadian di rumah itu. 

Aku tersadar, bahwa yang Ibu impikan bukanlah kembali ke rumah Eyang, namun menghidupkan kembali kehangatan di rumah Eyang. Yang Ibu rindukan adalah kehangatan, saat masyarakat berkumpul di rumah Eyang, saat yang mampu mengulurkan bantuan kepada yang membutuhkan di paviliun sederhana milik Eyang, saat anak-anak Eyang bercengkrama dengan anak-anak asuh yang Eyang sekolahkan tanpa batasan sosial.

Kini aku paham: Ibu merindukan tempat untuk berbagi.

Ibu telah membesarkanku menjadi seorang yang bertekad untuk mengabdikan hidupnya bagi masyarakat. Mungkin saat ini aku masih di gerbang masuk jenjang karirku yang panjang, namun suatu hari nanti, aku akan persembahkan mahakaryaku untuk Ibu dan Ayah. Aku akan menghidupkan kembali "Rumah Eyang". Ya, di masa depan aku akan mendirikan yayasan yang melayani pendidikan bagi anak-anak yang tidak mampu yang akan kuberi nama "Rumah Eyang". Ibu nantinya dapat menghabiskan masa tua Ibu bersama anak-anak, melayani mereka, bercengkrama dengan mereka, juga mengajari mereka membaca, seperti yang Ibu lakukan saat Ibu masih kecil.

Aku akan mendesain "Rumah Eyang"ku persis menyerupai rumah Eyang di Karanganyar, namun aku akan mengisi paviliunnya dengan ribuan buku yang Ibu miliki. Ibu, Ayah, inilah anganku atas mahakarya yang akan kupersembahkan suatu hari nanti. Semangat berbagi dan amalan baik tidak akan lekang di yayasan "Rumah Eyang" yang kokoh tak tertandingi.

___________________________________________________________

Artikel ini merupakan karya tulis peserta kompetisi storyline "Mahakarya untuk Ayah dan Ibu" yang diselenggarakan oleh IDNtimes dan Semen Gresik.

Sosial Media