09 Jan 2017 20:00

#MahakaryaAyahIbu: Bersabarlah dalam Lantunan Doamu

keluarga kokoh

blog.duitpintar.com

SHARE:

Oleh: Febri

Kompetisi DIPERPANJANG s/d 31 Januari 2017 dan tambahan 2 topik menarik yang bisa Anda pilih!

Menangkan total hadiah utama 1 paket wisata ke Singapura, perhiasan dari Frank & Co., jam tangan dari Alexandre Christie dan berbagai hadiah menarik lainnya serta storyline terbaik akan dijadikan ide cerita untuk video komersial Semen Gresik! Info lengkapnya lihat di sini.

_________________________________________________________________________

Aku, gadis berusia 24 tahun, memutuskan untuk melanjutkan studi pasca sarjana ke tanah rantau tahun 2015 lalu. Awal masuk kuliah Aku memiliki teman baru, bernama Bunga. Bunga lebih tua dariku dan Bunga berasal dari Yogyakarta, tempatku meneruskan studi. Kala itu yang membuatku heran adalah Bunga asli Yogya, orang tua juga di Yogya, tapi kenapa Bunga memilih tinggal di kos-kosan. Saat itu Bunga hanya tersenyum dan berkata “suatu saat nanti kamu juga mengerti”. Setelah mendapat jawaban Aku merasa bersalah sudah terlalu jauh ikut campur urusan pribadinya dan segera mencari topik bahasan lain.

Ditengah-tengah kesibukan kuliah, aku masih sering menyempatkan diri pulang. Perjalanan pulang aku tempuh sekitar 4 jam menggunakan kereta. Beberapa kali pulang sambutan masih menyenangkan, obrolan ringan membahas perkuliahan, kehidupan baruku di Yogya, dan terkadang juga ditanyakan tentang teman pria yang sedang dekat denganku. Suasana itu masih aku rasakan nyaman, berada di rumah yang sederhana dengan dikelilingi orang-orang terkasih.

Suatu saat Aku mengungkapkan keinginanku ingin lanjut sekolah keluar negeri dan liburan semester depan akan aku manfaatkan untuk mengikuti kursus bahasa Inggris secara lebih intensif. Setelah keinginan kokoh tak tertandingi itu aku utarakan, aku merasa semakin tidak nyaman dengan sikap dan perilaku orang tuaku. Setiap kali pulang obrolan yang selalu disinggung adalah mengenai jodoh. Lebih perhatian aku rasa, mulai dari menceritakan temanku yang sudah menikah, menanyakan kabar pria yang pernah dekat denganku, ada telepon ditanya dari siapa, sampai Ibu berencana mengenalkanku dengan anak temen beliau. Hanya senyum kecut dan jawaban seadanya yang dapat dilontarkan. Ayah dan Ibu mungkin takut aku terlalu fokus pada sekolah sehingga lupa memikirkan tentang jodoh. Dengan sikap mereka, jujur membuat hati ini berpikir dua kali jika ingin pulang, dalam hati berpikir mungkin maksud Bunga kala itu seperti yang aku rasakan sekarang.



Liburan semester tiba dan aku semakin mantap untuk kursus bahasa Inggris di luar kota. Dapat dikatakan kursusku ini adalah pelarian daripada di rumah dan selalu disinggung tentang jodoh. Masih pusing menyesuaikan diri dengan lingkungan belajar baru, orang tuaku masih mencoba mengenalkanku dengan anak dari kerabat jauh kami dan dia akan berkunjung ke tempat kursus. Bodohnya aku tidak dapat menahan emosi, aku langsung menelepon ibuku dan berkata bahwa aku tidak suka dengan cara seperti itu dan hal itu membuatku makin malas pulang.

Tak lama kemudian aku ditelpon kakakku, ternyata emosiku membuat ibuku menangis. Aku menceritakan semua keluh kesahku kepada kakakku yang selama ini aku pendam sendiri. Setelah menenangkan diri aku mengirim pesan maaf atas sikap burukku tadi kepada ibuku, ibuku berpesan kepadaku agar tidak malas pulang dan beliau berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi.



Dengan kejadian itu, sekarang memang tidak ada pertanyaan dan sikap aneh lagi yang menyinggung perjodohan namun tetap saja aku masih merasa tidak nyaman. Takut membuat mereka sedih karena sampai sekarang aku masih sendiri, sehingga berupaya keras menghindarkan mereka dari hal-hal berbau jodoh yang datang dari temanku. Aku melarang temanku pria datang ke rumah, aku meminta temanku menitipkan undangan pernikahannya ke rumah temanku yang lain, aku melarang temanku mengirim langsung undangan pernikahannya ke rumahku, dan berusaha tidak angkat telepon saat di rumah. Hal itu aku lakukan karena takut mengingatkan orang tuaku tentang diriku yang masih sendiri dan akan membuat mereka sedih.

Ayah dan ibu, maafkan aku sampai sekarang belum mampu melukis senyuman kebahagiaan di wajahmu yang semakin renta. Maaf aku belum mampu mempersembahkan mahakarya yang selalu kalian impikan, mahakarya yang selalu aku nanti dan upayakan, mahakarya yang selalu aku panjatkan dalam setiap sujud.

Aku tau pasti Ayah dan Ibu membantuku dalam lantunan doa, aku berharap Ayah dan Ibu bersabar, aku berdoa Ayah dan Ibu memiliki cukup waktu menyaksikan keagungan mahakarya yang sejatinya datang dari Tuhan. Waktu dimana Tuhan memandangku mampu melaksanakan kewajiban baru. Waktu dimana Tuhan menjadikanku pengantin paling cantik dengan senyuman kebahagiaan yang akan aku lukiskan diwajah Ayah dan Ibuku tercinta.

___________________________________________________________

Artikel ini merupakan karya tulis peserta kompetisi storyline "Mahakarya untuk Ayah dan Ibu" yang diselenggarakan oleh IDNtimes dan Semen Gresik.

Sosial Media