09 Jan 2017 19:00

#MahakaryaAyahIbu: Adakah Mahakarya yang Pantas untuk Membalas Mereka (Sosok Kokoh Tak Tertandingi)?

keluarga kokoh

http://www.lifehack.org/

SHARE:

Oleh: Dian Mangedong

Kompetisi DIPERPANJANG s/d 31 Januari 2017 dan tambahan 2 topik menarik yang bisa Anda pilih!

Menangkan total hadiah utama 1 paket wisata ke Singapura, perhiasan dari Frank & Co., jam tangan dari Alexandre Christie dan berbagai hadiah menarik lainnya serta storyline terbaik akan dijadikan ide cerita untuk video komersial Semen Gresik! Info lengkapnya lihat di sini.

_________________________________________________________________________

 

Kemanapun langkah pergi, pada akhirnya selalu ada rindu yang berusaha memendekkan jarak. Jejak pulang untuk sesuatu yang berharga. Tentang lingkungan kesederhanaan yang selalu menyelimuti hati dengan segala kenyamanan. Pada sebuah rumah yang terbangun kokoh dengan segala kenangan manis masa kecil. Walau tinggal memori, setidaknya keluarga adalah yang menjadi topik utamanya.

Aku lahir dalam keluarga sederhana, dengan bapak dan ibu yang istimewa. Sangat mengharukan dengan segala perjuangan yang dilakukan. Tekad bulat menomorsatukan pendidikan untuk mengangkat nama keluarga, menjadikan cucuran keringat adalah makanan sehari-hari. Apakah masih ada yang perlu ditanyakan dari impian bapak/mama selain anaknya dapat mengecap tangga kesuksesan?

Kado terbesar yang sangat ingin dibukanya di hari punggungnya dapat sedikit menegak melihat anaknya sudah dihiaskan toga. Beberapa orang sanggup menghitung detik dalam seminggu, sebulan, bahkan setahun. Yang sulit hanya mengenang semua yang telah dilakukan orang tua dan kita (anaknya) hanya bisa berkata kasar, melukai hati, dan membuat mereka menangis. Tidak ada karya yang pantas untuk menukarkan semua yang telah mereka serahkan. Ini hanya tentang ucapan syukur atas segala yang mereka ikhlaskan. Sayangnya, perlahan tetapi pasti waktu mengambil sosok kita dari mereka.

Kado paling berharga yang sangat ingin mereka nikmati hingga masa memutih rambutnya. Yang terjadi kesibukan malah membawa anaknya semakin jauh, jauh, hingga lupa hari untuk pulang. Aku selalu berpikir adakah ‘waktu’ yang dapat diajak kompromi? Atau kita anaknya yang perlu diajar tentang memprioritaskan waktu? Tidak ada sesuatu yang benar-benar layak kupersembahkan bagi bapak dan mama. Aku masih sama. Gadis kecil penuh ketergantungan yang tumbuh dewasa dan mulai beradu kata dengan mama. Anak kecil yang pura-pura lelah setiap mengajari bapak tentang pemakaian teknologi. Aku sampai-sampai melihat masuk sebagai sosok yang tak tahu diri.

Kali ini aku tidak berupaya menjanjikan apapun, atau berupaya memperbaiki masa lalu. Aku hanya berdoa di masa depan aku dapat bekerja, mengabdikan diri sebagai perawat untuk melayani mereka. Sesederhana kebiasaan pulang disore hari dan membawa bungkusan hadiah untuk mereka. Tidur malam setelah mematikan lampu kamar mereka. Bangun pagi dan menyediakan mereka makan dan minum. Dan kemudian melangkah pergi mengikuti terbitnya mentari dengan kecupan perpisahan hangat. Lalu kembali lagi dibawah langit senja dan melihat mereka duduk manis menungguku di teras rumah.

Semua tampak istimewa dan dibumbui dengan hari libur untuk tertawa bersama dibawah langit biru. Walau masih sebatas angan untuk membangun klinik, kebahagiaanku cukup sempurna di setiap kali mengecek kesehatan bapak dan mama.  Aku gadis biasa yang hanya berupaya membangun mahakarya dari kesederhanaan yang kumiliki. Pun jika itu tidak layak untuk kusebut mahakarya, percayalah ma, pak, aku masih ingin berjuang untuk pendidikanku demi mengharumkan nama kalian. Kumohon tetaplah sehat dan bahagia bersama denganku.

___________________________________________________________

Artikel ini merupakan karya tulis peserta kompetisi storyline "Mahakarya untuk Ayah dan Ibu" yang diselenggarakan oleh IDNtimes dan Semen Gresik.

Sosial Media