09 Jan 2017 17:00

#MahakaryaAyahIbu: Sebuah Mahakarya dari Anakmu yang Tidak Romantis

keluarga kokoh

HD Images New

SHARE:

Oleh: Audia Azani

Kompetisi DIPERPANJANG s/d 31 Januari 2017 dan tambahan 2 topik menarik yang bisa Anda pilih!

Menangkan total hadiah utama 1 paket wisata ke Singapura, perhiasan dari Frank & Co., jam tangan dari Alexandre Christie dan berbagai hadiah menarik lainnya serta storyline terbaik akan dijadikan ide cerita untuk video komersial Semen Gresik! Info lengkapnya lihat di sini.

_________________________________________________________________________

Kemarin adalah Hari Ibu. Orang-orang merayakan hari tersebut dengan cara masing-masing. Kebanyakan, sih, unggah foto di sosial media. Tak lupa diiringi dengan kata-kata romantis sebagai ucapan terima kasih buat ibunya. Sementara aku cuman bisa kasih jempol atau like. Kalau teman seperantauanku merayakan Hari Ibu dengan menelepon ibunya. Sedangkan aku malah tidak melakukan apa-apa seakan kemarin itu bukan hari yang cukup istimewa untuk dirayakan. 

Ketika ada Hari Ayah juga begitu. Memang, sih, perayaannya ini masih kurang populer dengan Hari Ibu. Tapi masih ada, kok, yang mengungkapkannya di sosial media. Entah pasang foto bareng, pasang foto ayahnya doang, atau quote mengenai ayah. Sementara aku cuman bisa scroll lini masa sembari senyum-senyum sendiri melihat beberapa foto tadi. 



Aku iri sama teman-teman yang pamer kemesraan dengan ayah dan ibunya. Kok, aku nggak bisa sebebas mereka, ya? Bebas berekspresi maksudnya. Jujur aku malu banget kalau harus mengucapkan kata-kata romantis atau berbuat hal yang romantis pada ayah dan ibu. Entah kenapa. Mungkin memang aku bukan orang yang romantis.

"Tapi bisa romantis sama pacar, kan?"
Sorry, aku nggak pernah pacaran. HAHAHA.

Tapi aku masih bisa, kok, mengungkapkan kata-kata romantis tersebut pada boyband Korea yang aku suka. Biasanya bilang "SARANGHAE" atau "I LOVE YOU" di sosial media mereka. Mungkin karena aku dan mereka hanya sebatas fans ke idola saja. Makanya kata-kata tersebut mengalir begitu saja.

Kata-kata romantis itu juga nggak mesti sebagai ukuran tertinggi rasa sayang kita pada seseorang. Well, emang, sih, kalau kata-kata "I LOVE YOU" itu lebih sering aku ucapkan untuk idolaku ketimbang ke orang tuaku. Tapi aku pernah membayangkan skenario seperti ini: 

Misalkan aku berada dalam sebuah gedung. Kemudian gedung itu kebakaran. Di dalamnya gedungnya ada orang tuaku dan artis idolaku. Yang mana yang lebih dulu aku selamatkan? 

Jawabannya: orang tuaku! 



Jadi, rasa sayang itu memang tidak harus diungkapkan dengan kata-kata romantis. Rasa sayang dari action atau perbuatan itu sebenarnya lebih kokoh tak tertandingi oleh kata-kata romantis manapun. Nah, bagaimanakah caraku untuk menunjukan rasa sayang pada orangtuaku? Salah satunya dengan memberikan sebuah mahakarya untuk ayah dan ibu.

Masih teringat dalam pikiranku, sebuah memori tentang perbedaan pendapat antara aku dengan orangtuaku mengenai sekolah lanjutanku selepas SMA. Mereka ingin sekali aku melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK) agar aku tidak susah mencari kerja lagi setelah lulus. Namun, aku lebih ingin melanjutkan pendidikanku ke jurusan Ilmu Komunikasi sebuah universitas negeri karena cita-cita masa remajaku, yaitu menjadi jurnalis. 

Setelah beberapa waktu berlalu, disertai dengan bujukan orangtuaku, akhirnya aku luluh juga. Aku pun melanjutkan pendidikanku di sebuah PTK yang terletak di Tangerang Selatan. Memang pada awalnya aku banyak mengeluh mengenai mata kuliahnya yang sebagian besar berhubungan dengan ilmu pasti. Namun lama kelamaan banyak sekali manfaat yang aku dapat dari pilihan orangtuaku ini. 

Ayahku pernah berkata, "Jadi jurnalis tidak harus masuk jurusan Komunikasi." dan ini aku ternyata terbukti. Ketika jenuh dengan rutinitas kuliah, aku berusaha menghilangkannya dengan melakukan hobiku, yaitu menulis blog. Tak disangka, dari blog itu akhirnya aku pernah diundang meliput sebuah acara, seperti seorang jurnalis. 

Manfaat yang paling aku rasakan ketika aku lulus D1. Aku mendapatkan penempatan kerja di Bitung, Sulawesi Utara. Gaji dari kerja itu sudah cukup untuk membuatku mandiri secara finansial. Pada awal bulan Maret, akhirnya aku dapat berkata pada orangtuaku, "Nggak usah transfer uang saku lagi. Gajiku sudah cukup." 

Untuk Ayah dan Ibu, inilah mahakarya sekaligus ungkapan cinta yang aku persembahkan: perwujudan cita-cita yang kalian idamkan. Terima kasih telah menuntunku pada jalan ini. Aku memang tidak menelepon setiap hari serta jarang bilang "I LOVE YOU" seperti anak-anak lain. Tapi percayalah, Ayah dan Ibu selalu terselip dalam doa.  


Bitung, 23 Desember 2016

___________________________________________________________

Artikel ini merupakan karya tulis peserta kompetisi storyline "Mahakarya untuk Ayah dan Ibu" yang diselenggarakan oleh IDNtimes dan Semen Gresik.

Sosial Media