05 Jan 2017 14:30

Dunia dalam Genggaman Bagi Pengusaha yang Bisa Memanfaatkan Bisnis dengan Kreatif

keluarga kokoh

-iniod.com

SHARE:

oleh Rhenald Kasali  

     Bisnis yang dari dulu ada, tapi sekarang baru terlihat sangat diperlukan adalah penjualan pulsa ponsel atau internet. Bahkan di jalan saja anak-anak sudah mulai tidak betah kalau tidak ada Wi-Fi yang bisa diakses. Maka bus atau kereta di luar negeri – reguler atau pariwisata – dinobatkan menjadi sarana transportasi yang menyenangkan bagi mereka. Oleh karena itu, provider TV berlangganan yang hanya menyediakan channel TV kurang peminat, digantikan oleh merek-merek TV berlangganan yang lincah menyediakan Wi-Fi. Dengan akses cepat sehingga anak-anak betah di rumah.

    Mungkin Anda bertanya-tanya, setelah orang dengan gampang berhubungan via telepon, konferensi lewat Skype, lalu apakah bisnis surat-menyurat habis? PT Pos Indonesia di bawah dirutnya, Gilarsi W Setijono, untunglah orang yang kreatif. Menyadari bahwa orang tak lagi banyak bersurat-suratan, ia membuat sejumlah gebrakan. Maka BUMN yang dipimpinnya itu menggandeng BPJS Kesehatan untuk menjadi distributor Kartu Indonesia Sehat (KIS) di beberapa wilayah.

    Mahalnya sewa kantor – diiringi pesatnya kemajuan teknologi – membuat anak-anak muda yang ingin segala sesuatu serba praktis melirik kantor-kantor virtual seperti yang ditawarkan Regus. Tidak perlu punya modal berlimpah dulu, Anda bisa berkantor di alamat bisnis yang mentereng dengan sewa per bulan yang affordable. Nomor lokal yang tertera bisa dihubungi, dengan penerima telepon yang akan menjawab dengan memakai nama perusahaan Anda. Bila punya tamu penting, ajak mereka ke lounge business tanpa harus susah payah pergi ke hotel bergengsi. Wi-fi, fasilitas print atau scan dan fotokopi pun tersedia. Bahkan kalau kantong Anda masih dangkal, boleh saja mengambil pilihan kantor bersama.

    Inilah bedanya bisnis jasa kreatif dengan bisnis properti cara lama. Tidak heran kalau sebagian gedung keren di Jakarta hanya terisi separuh saja karena cara dagangnya masih seperti dulu. Pendeknya, untuk bertahan, atau memulai bisnis baru di era digital ini, Anda perlu pandai-pandai memanfaatkan peluang. Gambaran dinosaurus yang besar dan lamban layaknya perusahaan gaya lama, sudah harus digantikan dengan sosok cheetah yang gesit.Mereka yang berbisnis kafe atau restoran misalnya, kecuali hidangannya sangat lezat atau orisinal dan dikejar-kejar pelanggan, tak mungkin jadi destinasi favorit kalau tidak dilengkapi Wi-fi. Toko kelontong, bahan pangan, atau bisnis apa pun yang menerima tamu, juga bakal dilewat saja kalau tokonya berantakan dan panas tak ber-AC.

    Sebaliknya, mereka yang sukses memanfaatkan peluang bakal menangguk untung berlipat. 7 Eleven yang akrab disebut ‘Sevel’ misalnya, adalah salah satu dari bisnis lama yang bersalin rupa. Tidak hanya menjual kopi kemasan, ia membebaskan pelanggan membuat kopinya sendiri dengan menyediakan air panas. Selama kreatif dan jeli mencari peluang, bisnis justru berkembang.

    Jadi tidak perlu terperanjat lagi bila bermodalkan smartphone saja, tukang sayur Anda bisa berhenti bekerja saat makan siang. Ia sudah punya pelanggan tetap, bisa memprediksi bahan pangan mana yang perlu disediakan, dan ke daerah mana saja yang perlu didatangi untuk menawarkan jualannya. Dan kalau dikatakan dunia sudah ada di genggaman Anda, itu bukan sekadar propaganda. Buka smartphone Anda, (pastinya, sebagai imigran di dunia digital, Anda perlu belajar menguasainya) cari apa yang Anda mau, hampir semua ada, tanpa perlu beranjak dari tempat Anda. Ya, pasti ada hal-hal yang tidak ada, dan di situlah sebenarnya peluang bisnis menyeruak.

 

Sosial Media