30 Agu 2016 13:00

Pesan dari Sebuah Poster Tua untuk Pemuda & Pemudi Indonesia

keluarga kokoh

Sumber Gambar: kaskus.co.id

SHARE:

Tulisan dari: Januar Rasyid

 

Masih pukul jam 6 pagi, namun aku sudah terbangun dari suara hentakan hausnya nikmat dunia di jalanan. Langkah-langkah kaki sepatu kulit telah membangunkan suasana ibu kota. Tiap detiknya, para pencari peruntungan melewati sudut-sudut kota Jakarta. Gedung-gedung pencakar langit mulai menyalakan lampunya, pertanda sinar matahari tak cukup terang untuk menyinari Kota Metropolitan.

Televisi baruku masih menyala terang, bekas tadi malam. Kulihat seluruh saluran yang dipenuhi dengan orang-orang yang khidmat melaksanakan upacara bendera. Biasanya di setiap pagi aku akan menemukan acara favoritku, namun tidak hari ini. Bingung pikirku, dan kulihat ke dinding kamarku. 

“Oh”, ujarku.

Kalender robek ku menunjuk ke Tanggal 17 agustus, Hari Kemerdekaan Indonesia.

Pikirku, tak ada yang spesial. Ini hanya satu hari libur seperti hari lainnya. Telepon pintar ku berbunyi, pesan dari bos ku untuk mempersiapkan meeting proyek teranyar di esok hari. Sebuah prospek besar yang akan mendatangkan gaji puluhan juta rupiah hanya untukku.

Kusorot dinding kamar untuk melakukan posting di sosial media favoritku. Tentu saja ku foto dinding kamar yang dipenuhi poster-poster terkini, mulai dari band ternama The Beatles hingga mobil bermerk BMW idaman semua teman-temanku. Rasanya sudah lama aku pasang poster-poster itu. Tak pernah kuganti dan kurubah. Semuanya adalah panutanku, semuanya itu terlihat menawan. Hanya itu pikirku.

Tak kukira ada sosok seorang proklamator disana, dengan ukuran poster yang kecil dan terlihat usang.

Sumber Gambar: engkongyudo. wordpress.com

Kuperhatikan,

Kulihat dalam, tangannya penuh hormat kepada sang saka merah putih. Badannya tegak, pertanda tak gentar melawan penjajah yang menghadang. Matanya terisi penuh harapan untuk Indonesia di masa yang akan datang.

Ya, Indonesia saat ini. Indonesia yang dihantui oleh masalah korupsi yang melubangi ekonomi negara, di mana mafia narkoba terus bergentayangan merusak rusuk moral bangsa, di mana tawuran dari tingkat kampung hingga kampus menjatuhkan citra Indonesia tak henti-hentinya.

Kumerenung,

Apa yang dirasakan oleh para pahlawan? Setelah ratusan ribu para pahlawan yang berjuang pada zaman revolusi dahulu, mengorban jiwa raga dan hartanya. Berlandaskan cita-cita mulia agar negara ini bebas dari penjajahan dan dapat berdiri dengan tegak dengan bangsa-bangsa lain.

Kutersadar,

Para Pahlawan rela berkorban agar anak cucunya hidup dalam kedamaian, hidup makmur penuh berkeadilan, bebas dari kemiskinan. Agar kita tidak menjadi, bangsa yang hidup 2½ sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe atau bangsa yang lemah.

Namun ironisnya, masyarakat justru hidup miskin dalam negara yang dikaruniai kekayaan alam di darat dan laut yang luar biasa. Korupsi bagaikan virus!, menjalar dari tingkatan terendah sampai menjadi budaya dalam masyarakatnya.

Kuterdiam, hatiku bergetar,

Tak kusangka, negeri ini sedang sakit, kacau balau, nilai perjuangan para pahlawan dikhianati oleh oknum-oknum yang mengaku wakil rakyat, oleh oknum pejabat yang mengaku pelayan rakyat, penipu-penipu ulung yang berkedok penegak konstitusi.

Asaku terhentak, teringat sebuah pesan dari Sang Proklamator:

“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia!”

Bahwa pemuda adalah harapan bangsa, tombak perubahan. Bahwa kita adalah penerus kemerdekaan. Visioner yang kelak akan membawa merah putih tinggi, lagi. Bahwa hakikinya sebuah negara akan hebat jika pemuda-pemudanya menjadi keluarga yang kokoh dan punya kemauan berjuang lebih baik untuk negaranya. Taukah negara yang akan hebat itu? Negara itu adalah Indonesia.

Sumber Gambar: skanaa.com

Ingatlah, tak peduli dimana kau berada, sepintar apa dan sekaya apa.

“Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”.

Cintamu terhadap Indonesia haruslah pasti, sebab jutaan jiwa telah mereka korban kan untuk kebebasan hidup dirimu, diriku, dan kita sekarang.

Kitalah yang dapat membangun Indonesia lebih baik, kokoh tak tertandingi. Tak harus menjadi anggota parlemen atau pejabat negara, kawan. Kita bisa memulai dari hal kecil, belajar lebih giat, peka terhadap keadaan sosial, bahkan mencoba kritis terhadap kebijakan.

Tak perlu kau membenci dan mengumpat gaya orang barat. Suatu saat budaya kita akan lebih hebat. Ingatlah siapa jati dirimu, dan di mana kau lahir.

Sumber Gambar: wahyualam.com

Marilah Kawan,

Mari kita buat pahlawan-pahlawan bangsa bangga, karena pengorbanan mereka tak hanya percikan darah yang terbuang sia-sia.

Sekali merdeka, tetap merdeka!

 

Sosial Media